Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 April 2014

Paradoks: Senja di Ufuk Timur

Aku
Seseorang yang tersesat di jalan yang benar
Mungkin satu-satunya yang tersesat di sini

Tersesat di jalan yang penuh cabang ini
Tersesat di kota yang penuh keramaian ini
Tersesat di tengah hiruk pikuk ini

Aku rindu, merindu akan setiap waktu
Yang mungkin telah terlewat
Dan tak mungkin bergerak

Seorang pengecut yang tersesat
Sosok yang ada di dalam cermin sana
Dan aku tak berontak

Aku lemah, aku lelah
Aku rindu cinta
Aku rindu rasa

Lidah berpilin di ‘tiap ujung telinga
Tangan halus di tepi karang jalanan
Aku tersesat di saat semua menghilang

Ingin ku bertahan
Dan aku mampu
Namun hati tetap meradang

Sakit bukan lagi halangan
Luka bukan lagi tantangan
Hanya sebuah kenangan

Seakan tak mampu melangkah
Seakan tak sanggup menatap masa depan
Tetap terpaut masa silam

Bagai langit yang temaram
Kala senja menjelang

Senja di ufuk timur yang membayang

Dan aku masih mencoba bergerak
Maju melangkah di sana
Merangkak, menggapai segala yang ada

Ingin ku pulang membuang
Lupakan sesat yang bertulang
Namun masa tiada terkenang

Senjaku di ufuk timur
Temaram fajarku telah berganti
di atas langit
semasa senja di ufuk timur

Rabu, 02 April 2014

Sebuah Kematian

Kematian
            membentuk kenangan
            membawa pergi keindahan
oleh bayangan
            membuang kebahagiaan
            namun menuai kemuliaan
dengan kesakitan
            meninggalkan harapan
            menghuni ketenangan
tiada kekuatan
            hanya ketakberdayaan
            membawa keprasahan
Bayangan kenikmatan
            menari telanjang
            dan menjijikkan
Lupakanlah saja
Lupakan
            Ini kematian
tiada lagi harapan

            hanya kerinduan

Jumat, 14 Maret 2014

SALJU DI PADANG MIMPI

Jalan ini jalan bersalju
Menghampar sejauh mata menerawang
menembus hingga horison di depan
Memutihkan mata dan juga jiwa
Silaukan karsa ciptakan maya
Dan ini adalah jalanku
                Jalanku berselimut salju
                yang nampak putih nan suci
                seakan tiada bernoda, namun dingin
                hingga membekukan mimpi dan asa,
                yang menggunung, menutupi jalanku
Jalanku tertutup salju
Tepat di ujung jemari kakiku
hingga tiada lagi langkah tersisa
hingga tak ada lagi ranah kering
untuk kaki ini berpijak
sebab salju menghalangi langkah
                Langkahku terhalang salju
                Menutup semua pilihan dan kemungkinan
                mengurung diri dalam dingin yang sunyi
kemana lagi ku ‘kan pergi?
ke arah mana langkah kugerakkan?
                Terkobar gurun api di kananku
                dan menggunung samudera di kiriku
                sementara tak ada langkah kembali,
tanah ini sekali pijak
yang lenyap setelah melangkah
                Dan aku terkurung di sini
                Di tengah padang yang telah berhujan salju ini
                yang ‘kan dilewati badai ini
                Sementara mimpi itu kian nampak di depan sana
                Di batas horison, di padang mimpi
Jejakku kian tertutup salju
Seiring ragaku diterpa kapas-kapas putih yang kaku
                Dan angin pun tak sanggup lagi berhembus
                ia membeku di ujung-ujung lembah
Aku sungguh terjebak di sini
Di tengah padang mimpi yang kuciptakan sendiri
Padang mimpi yang kukhayalkan tak akan pernah mati
tapi ternyata kini menjadi sunyi
karena salju berderai seperti tiada akan berhenti
                Salju turun di padang mimpiku
                Menutupi jalanku
                Menghalangi langkahku
                Membekukan kehidupanku
Lalu aku mendongak,
kuteriakkan  pada Yang Di Atas sana,
“Aku tak akan berhenti di sini!
Lihatlah, aku akan menerjang semua ini!
Aku tak butuh apapun di sini!
Ini duniaku! Ini padang mimpiku!”
                Dan aku pun berlari,
                terus berlari mengoyak timbunan salju
                menerjang danau beku yang memuakkan
Lalu aku berlari tiada lagi peduli
Istana mimpiku itu tak pernah ada, ia hanya fatamorgana
Begitu tersadar, aku telah beku terkubur salju

Jumat, 14 Februari 2014

Negeri Hitam Putih

Ada sebuah negeri, negeri hitam putih.
       Dimana cahaya tak sanggup membias
       Dimana jembatan bidadari,
       tak mampu terwujud di ujung rintik hujan
       Dimana aurora matahari,
       hanya ‘kan jadi latar langit hitam yang menyesatkan
       dan bumi putih yang menyilaukan
Di negeri itu hanya ada hitam dan putih.
       yang berdiri di atas realita,
       Realita papan catur yang dipenuhi buah catur raja
       yang menghalangi utopia ataupun khayal
       yang bahkan mimpi pun tak boleh berwarna
       harus hanya hitam dan putih
Dan aku hidup di sana.
       terbuang di sudut negeri bersama para penuntut cahaya
       Sebab, kata catur raja,
       “hitam adalah (mungkin) salah....
       dan putih adalah (tidak selalu) benar....”
       dan kami benci catur raja.
Di negeri ini.
       Jika kau hitam, maka hitamlah sudah,
       kau salah....begitupun hidupmu
       Tak peduli seberapa luas warna hitammu
       Tak peduli mengapa kau hitam,
       meski ternyata itu karena buah catur raja-buah catur raja
Namun di negeri ini pula.
       Bila kau putih, tak selamanya kau ‘kan terus putih,
       dan benar....
       Sebab tak ada yang tahu seberapa lama
       bidak-bidak catur mengacuhkan warna putihmu
       Dan tidak ada yang tahu pasti
       Apakah putihmu karena diputihkan?
       ataupun putihmu ‘kan segera dihitamkan
       oleh papan catur itu sendiri?
Dan aku jengah, aku lelah dengan itu semua.
       Aku terbuang di sudut negeri ini,
       bersama para penuntut cahaya
       Sebab tak pernah ada pilihan
       Bila tidak putih, pasti hitam
       bahkan tidak ada tabir abu-abu di sini
Negeriku ini tetaplah negeri hitam putih.
       bagai papan catur,
       dengan kotak hitam putih yang saling berseling
       yang saling menindih.
       Tak peduli seberapa besar,
       tak peduli seberapa banyak yang ingin mewarnainya
Sebab tak ada warna lain di negeri ini.
Sebab cahaya pun enggan membias.
Lalu negeri ini akan selalu hitam putih.
       Dimana hukum pun adalah bidak-bidak catur,
       yang dipermainkan oleh tangan-tangan hitam putih
       Dimana aturan hanya ‘kan berlaku,
       saat hitam menjejak di atas putih
       Lagi-lagi, tak pernah peduli
       dari mana hitam itu, bagaimana putih itu
Jadi, masih tertarikkah kau dengan negeri itu?
Masihkan ingin kau hidup di sana?
       ketika hitam masih bisa diputihkan
       dan putih pun dihitamkan
Atau kau tak suka?
Tutup saja papan catur hitam putih itu!
Gantikan saja dengan papan monopoli yang penuh warna!
       termasuk warna kematian dan warna keputihan
Sebab negeri ini negeri hitam putih.
       meski papan hitam putih hancur sekalipun,
       namun hitam akan jadi bayangan
       dan putih, adalah tipuan bayangan
Sebab cahaya tak mampu dan tak mau membias.
       di negeri ini
       di negeriku ini
       di negeri hitam putihku ini
Tapi di sudut buangan ini.
       Aku, dan para penuntut cahaya
Tak mampu dan tak mau juga berhenti
       yakin, percaya dan berharap
Akan ada pelangi penuh warna
Sebab di tangan kami,
       tergenggam berlian Tuhan
Yang ‘kan membiaskan cahaya
Hingga terlahirkan warna-warna, yang menghiasi
       dan mendampingi hitam putih negeriku ini
Agar tak ada lagi Negeri Hitam Putih

       seperti negeri ini.

Gadis Kecil dengan Mimpi Mungil

Ia gadis cantik kecil yang manis,
dengan mimpi kecil yang indah
Ia ingin mengejar kupu-kupu kecil
meski……tiada ingin ia menangkapnya,
mengambil kebebasan kupu-kupu kecil
yang terbang di taman cahaya

Namun…..

sebutir keegoisan menistakannya
setitik kesombongan dan keserakahan…..
dari manusia-manusia
yang mengaku dewasa
Yang kobarkan api kehancuran
angin permusuhan……

hingga akhirnya…..dunia berperang
bertarung….kalah…..menang…..
hancur, binasa…..putus asa…..

Lalu, apa yang mereka cari?
Apa yang manusia dewasa itu inginkan?
Sejengkal tanah?
Segenggam pasir?
Seteguk air?
Sebongkah batu?
Ataukah segunung nafsu?

Lalu untuk apa semua itu?
Bila akhirnya….ia gadis manis kecil yang cantik
Yang bermimpi mengejar kupu kecil nan indah…..
harus terjatuh?
Tertimpa runtuhan
Terhujan peluru keserakahan
Terpapar mortar kesombongan…..

Meskipun…..ia hanya gadis kecil
dengan mimpi kecil
Namun….mengapa manusia dewasa itu
dengan tega mengorbankannya
s’bagai tumbal ambisinya?

Dan lihatlah kini gadis itu?
yang t’lah bermandi cairan merah kehidupan
yang tubuh kecilnya lemah tak berdaya
yang kehilangan kupu kecil

Ah…..andai mereka….
Manusia-manusia dewasa itu
melihat dari sudut berdiriku di sini
mendengar dari sisi sebelah gadis itu
merasakan dari semua perasaan
yang ia benci atu pun yang ia agungkan

andai mimpiku jadi cita-cita
jika saja cita-citaku menjadi harap
ingin ku berdo’a dengan sangkakala Israfil
agar mereka semua mengerti…..
agar mereka semua tahu
bahwa ambisi dan sukses hanya akan nyata
ketika cinta dan kebersamaan mengiringnya

Ingin ku berizin pada Yang Mahakuasa
‘Tuk meletakkan harapanku pada mereka
Sebab aku di sini…..
hanyalah sebutir salju di padang sahara
hanyalah setetes air segar di tengah samudera
dan aku ingin melabuhkan mimpi ku….
Untuk mereka jaga…..dan jadikan nyata

Meskipun kini aku yakin,
gadis keil yang cantik dan manis itu
telah meraih mimpinya
bahkan ia…..mengejar kupu-kupunya
di tengah taman keabadia…….

Dan kupu itu kini adalah kupu cahaya