Jumat, 14 Februari 2014

Negeri Hitam Putih

Ada sebuah negeri, negeri hitam putih.
       Dimana cahaya tak sanggup membias
       Dimana jembatan bidadari,
       tak mampu terwujud di ujung rintik hujan
       Dimana aurora matahari,
       hanya ‘kan jadi latar langit hitam yang menyesatkan
       dan bumi putih yang menyilaukan
Di negeri itu hanya ada hitam dan putih.
       yang berdiri di atas realita,
       Realita papan catur yang dipenuhi buah catur raja
       yang menghalangi utopia ataupun khayal
       yang bahkan mimpi pun tak boleh berwarna
       harus hanya hitam dan putih
Dan aku hidup di sana.
       terbuang di sudut negeri bersama para penuntut cahaya
       Sebab, kata catur raja,
       “hitam adalah (mungkin) salah....
       dan putih adalah (tidak selalu) benar....
       dan kami benci catur raja.
Di negeri ini.
       Jika kau hitam, maka hitamlah sudah,
       kau salah....begitupun hidupmu
       Tak peduli seberapa luas warna hitammu
       Tak peduli mengapa kau hitam,
       meski ternyata itu karena buah catur raja-buah catur raja
Namun di negeri ini pula.
       Bila kau putih, tak selamanya kau ‘kan terus putih,
       dan benar....
       Sebab tak ada yang tahu seberapa lama
       bidak-bidak catur mengacuhkan warna putihmu
       Dan tidak ada yang tahu pasti
       Apakah putihmu karena diputihkan?
       ataupun putihmu ‘kan segera dihitamkan
       oleh papan catur itu sendiri?
Dan aku jengah, aku lelah dengan itu semua.
       Aku terbuang di sudut negeri ini,
       bersama para penuntut cahaya
       Sebab tak pernah ada pilihan
       Bila tidak putih, pasti hitam
       bahkan tidak ada tabir abu-abu di sini
Negeriku ini tetaplah negeri hitam putih.
       bagai papan catur,
       dengan kotak hitam putih yang saling berseling
       yang saling menindih.
       Tak peduli seberapa besar,
       tak peduli seberapa banyak yang ingin mewarnainya
Sebab tak ada warna lain di negeri ini.
Sebab cahaya pun enggan membias.
Lalu negeri ini akan selalu hitam putih.
       Dimana hukum pun adalah bidak-bidak catur,
       yang dipermainkan oleh tangan-tangan hitam putih
       Dimana aturan hanya ‘kan berlaku,
       saat hitam menjejak di atas putih
       Lagi-lagi, tak pernah peduli
       dari mana hitam itu, bagaimana putih itu
Jadi, masih tertarikkah kau dengan negeri itu?
Masihkan ingin kau hidup di sana?
       ketika hitam masih bisa diputihkan
       dan putih pun dihitamkan
Atau kau tak suka?
Tutup saja papan catur hitam putih itu!
Gantikan saja dengan papan monopoli yang penuh warna!
       termasuk warna kematian dan warna keputihan
Sebab negeri ini negeri hitam putih.
       meski papan hitam putih hancur sekalipun,
       namun hitam akan jadi bayangan
       dan putih, adalah tipuan bayangan
Sebab cahaya tak mampu dan tak mau membias.
       di negeri ini
       di negeriku ini
       di negeri hitam putihku ini
Tapi di sudut buangan ini.
       Aku, dan para penuntut cahaya
Tak mampu dan tak mau juga berhenti
       yakin, percaya dan berharap
Akan ada pelangi penuh warna
Sebab di tangan kami,
       tergenggam berlian Tuhan
Yang ‘kan membiaskan cahaya
Hingga terlahirkan warna-warna, yang menghiasi
       dan mendampingi hitam putih negeriku ini
Agar tak ada lagi Negeri Hitam Putih

       seperti negeri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar