Ada
sebuah negeri, negeri hitam putih.
Dimana
cahaya tak sanggup membias
Dimana
jembatan bidadari,
tak
mampu terwujud di ujung rintik hujan
Dimana
aurora matahari,
hanya
‘kan jadi latar langit hitam yang menyesatkan
dan
bumi putih yang menyilaukan
Di negeri itu hanya ada hitam dan putih.
yang
berdiri di atas realita,
Realita
papan catur yang dipenuhi buah catur raja
yang
menghalangi utopia ataupun khayal
yang
bahkan mimpi pun tak boleh berwarna
harus
hanya hitam dan putih
Dan aku hidup di sana.
terbuang
di sudut negeri bersama para penuntut cahaya
Sebab,
kata catur raja,
“hitam adalah (mungkin) salah....
dan putih adalah (tidak selalu) benar....”
dan
kami benci catur raja.
Di negeri ini.
Jika
kau hitam, maka hitamlah sudah,
kau
salah....begitupun hidupmu
Tak
peduli seberapa luas warna hitammu
Tak
peduli mengapa kau hitam,
meski
ternyata itu karena buah catur raja-buah catur raja
Namun di negeri ini pula.
Bila
kau putih, tak selamanya kau ‘kan terus putih,
dan
benar....
Sebab
tak ada yang tahu seberapa lama
bidak-bidak
catur mengacuhkan warna putihmu
Dan
tidak ada yang tahu pasti
Apakah
putihmu karena diputihkan?
ataupun
putihmu ‘kan segera dihitamkan
oleh
papan catur itu sendiri?
Dan aku jengah, aku lelah dengan itu
semua.
Aku
terbuang di sudut negeri ini,
bersama
para penuntut cahaya
Sebab
tak pernah ada pilihan
Bila
tidak putih, pasti hitam
bahkan
tidak ada tabir abu-abu di sini
Negeriku ini tetaplah negeri hitam putih.
bagai
papan catur,
dengan
kotak hitam putih yang saling berseling
yang
saling menindih.
Tak
peduli seberapa besar,
tak
peduli seberapa banyak yang ingin mewarnainya
Sebab tak ada warna lain di negeri ini.
Sebab cahaya pun enggan membias.
Lalu negeri ini akan selalu hitam putih.
Dimana
hukum pun adalah bidak-bidak catur,
yang
dipermainkan oleh tangan-tangan hitam putih
Dimana
aturan hanya ‘kan berlaku,
saat
hitam menjejak di atas putih
Lagi-lagi,
tak pernah peduli
dari
mana hitam itu, bagaimana putih itu
Jadi, masih tertarikkah kau dengan
negeri itu?
Masihkan ingin kau hidup di sana?
ketika
hitam masih bisa diputihkan
dan
putih pun dihitamkan
Atau kau tak suka?
Tutup saja papan catur hitam putih itu!
Gantikan saja dengan papan monopoli yang
penuh warna!
termasuk
warna kematian dan warna keputihan
Sebab negeri ini negeri hitam putih.
meski
papan hitam putih hancur sekalipun,
namun
hitam akan jadi bayangan
dan
putih, adalah tipuan bayangan
Sebab cahaya tak mampu dan tak mau
membias.
di
negeri ini
di
negeriku ini
di
negeri hitam putihku ini
Tapi di sudut buangan ini.
Aku,
dan para penuntut cahaya
Tak mampu dan tak mau juga berhenti
yakin,
percaya dan berharap
Akan ada pelangi penuh warna
Sebab di tangan kami,
tergenggam
berlian Tuhan
Yang ‘kan membiaskan cahaya
Hingga terlahirkan warna-warna, yang
menghiasi
dan
mendampingi hitam putih negeriku ini
Agar tak ada lagi Negeri Hitam Putih
seperti
negeri ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar